Anda adalah pengunjung yang ke:

Penguat Iman
Kisah para Muallaf
Muallaf
Pemurtadan
Misionaris
Kisah

Buku:





Video:
Waloni

Muhammad Asad (Negarawan dan Jurnalis Asal Australia)
Tanggal : 29/12/2005

Sebelum memeluk Islam namanya adalah Leopold Wals. Dia lahir di Lowow, Austria, pada tahun 1890. Lowow kini termasuk wilayah Polandia. Dia ikut dalam sebuah wisata ke Timur Tengah pada usia 22 tahun. Muhammad Asad memeluk Islam pada 1936. Selama kurang lebih enam tahun dia menetap di Madinah Munawarah dan sejumlah kota lainnya di Arab Saudi. Selama mukim di Arab Saudi, dia berhasil dekat dengan Raja Ibnu Saud. Setelah itu ia berkunjung ke anak benua India dan berhubungan dengan Allamah Iqbal, sang penyair-pemikir dari Timur, yang berlangsung dalam jangka panjang.

Bertahun-tahun ia berhubungan akrab dengan Sayyid Abul A'la al-Maududi di Darusssalam di Pauthakot. Dua buku karya tulisnya berjudul Islam at the Crossroad dan A Road to Makkah sangat terkenal di dunia Islam. Ia bercerita bagaimana dan mengapa memilih Islam sebagai agama yang dipeluknya hingga sekarang.

Kisahnya diawali seperti berikut. "Aku lahir dalam keluarga Yahudi pada 1900 M. Masa kecil kujalani di Lowow. Lowow kini termasuk dalam wilayah Austria. Kakekku adalah pendeta Yahudi. Kakek berusaha keras mendorong ayahku menjadi seorang pendeta juga. Tetapi, ayahku tidak suka dan mengambil pendidikan hukum untuk menjadi pengacara. Selanjutnya, ayahku ingin menjadikan aku seorang ilmuwan. Namun, aku lebih berminat pada sosiologi."

"Menurut tradisi keluarga kami, pada masa kecilku aku belajar bahasa Ibrani dan Armenia dan mempelajari Bibel, Talmud, dan kitab-kitab Yahudi lainnya. Selama itu aku banyak belajar sehingga aku dapat berdiskusi dengan bebas dan percaya diri mengenai perbedaan yang gamblang antar berbagai kitab suci dan berbagai kitab agama lainnya."

"Ketika pandangan dan wawasanku bertambah aku merasa takjub bahwa segenap pelosok Eropa Tengah mengalami dahaga spiritual luar biasa. Nilai-nilai religius dan spiritual merosot. Panji-panji materialisme berkibar di kawasan ini. Setiap orang hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan teror. Khususnya kaum muda terkungkung dalam kegelapan. Tidak ada yang sanggup memberikan jawaban terhadap persoalan dan masalah ini. Wajar jika mentalitas generasi muda terganggu dan spiritual mereka pun gelisah. Perang Dunia I yang meletus pada 1914 menjadikan situasai lebih buruk lagi."

"Dewasa ini manusia terdampar dalam ruang hampa di mana tiadk ada sesuatu pun yang dianggap berharga kecuali egoisme, ketidakpastian, dahaga tak terpuaskan terhadap perolehan duniawi, kemewahan, dan nafsu. Aku sering kali terpikir apakah tujuan dasar kehidupan adalah pemenuhan hasrat fisik dan material, apakah perolehan roti adalah satu-satunya tujuan hidup. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Eropa mencoba mengisi kekosongan spritual dengan kemajuan dan keperkasaan material. Namun, cara penyembuhan semacam itu lebih buruk ketimbang penyakitnya.

Manusia Eropa yang tengah sakit seperti itu akan bertambah parah. Ketiakpuasan, kecemasan, dan kegelisahan mereka menjadi berlipat-lipat. Namun, aku tidak cukup mampu untuk menarik Eropa keluar dari kubangan lumpur seperti ini karena tak punya apa-apa dalam benakku selain pemikiran, pandangan hidup, pengalaman kultural Eropa yang merupakan awal dan akhir garis hidupku. Aku tidak mampu melanjutkan pendidikan karena sesuatau yang berada di luar kekuasaanku. Karena itu, aku memutuskan untuk bergabung dengan jurnalisme dan meninggalkan pendidikan tinggi. Untuk itu, aku meninggalkan Wina pada musim panas 1920 menuju Praha. Di Praha aku harus berusaha keras untuk menjadi seorang wartawan yang handal. Aku harus siap berlapar-lapar selama beberapa hari dan melewati malam tanpa membaringkan badan. Aku menjalani hari-hari tanpa istirahat. Namun, aku melangkah mantap di dunia jurnalisme yang sangat kompetitif ini."

"Tetapi, dahaga dan dorongan mental spititualku semakin bertambah karena waktu. Aku ragu terhadap tujaun hidupku yang hakiki, dan aku tak sadar akan cara dan jalan menyongsong kedamaian dan kebahagiaan mental saya yang sejati. Beberapa kawan dekatku juga mengalami hal yang sama. Tidak ada di antara mereka yang miskin atau kekurangan. Tetapi, semuanya tercabut dari rasa damai dan rasa puas dalam hidup. Aku begitu sering merasakan seolah berjalan di dalam hutan belantara. Tidak ada jalan keluar dari hutan lebat itu."

"Pamanku dari pihak ibu bekerja sebagai pegawai pada sebuah rumah sakit di Baitul Maqdis. Pada musim semi 1922 aku menerima surat dari paman agar aku tinggal bersamanya di sana. Aku memenuhi undangannya itu dan tiba di pelabuhan Aleksandia (Iskandariah), Mesir, untuk kemudian menumpang kereta api menuju Baitul Maqdis."

"Kereta api yang kutumpangi melalui Gurun Sinai. Aku merasa betul-betul capai ketika hiruk pikuk dan keramaian banyak mengganggu tidurku sepanjang malam. Kulihat seorang Badui duduk di depanku. Ia memakai jubah panjang."

"Kereta api berhenti tiba-tiba di sebuah stasiun kecil saat pagi hai. Si Badui menyingkapkan tutup muka dan tampaklah wajahnya yang gelap. Ia mengeluakan oti, membagi dua dan memberikan sepotong kepadaku. Ia tesenyum melihatku yang agak enggan menerima. Senyum tulus terlukis di wajahnya setulus kehendak dan kepercayaan diinya yang besar. Ia seperti mau mengucapkan sesuatu tetapi aku tidak memahaminya waktu itu. Dapat ditafsirkan bahwa ia saat itu mungkin mengatakan, 'Anda dan saya adalah musafir dan kita bedua betujuan sama'."

"Ketika ingat kejadian kecil ini aku merasa bahwa di sinilah akar tata cara Arab tertancap dalam hatiku. Ia memberiku setengah dari rotinya. Roti ini mampu merobohkan semua dinding keasingan diriku di matanya. Sikap Badui ini berkesan sangat mendalam dalam jiwaku. Contoh yang dituntukkan oleh kawan seperjalananku ini sungguh sangat informal."

"Ketika kereta api sudah sampai di Gaza, teman Baduiku mengumpulkan barang bawaannya. Ia kemudian mengangguk menyampaikan salamnya kepadaku lalu turun dari kereta api. Dua orang Badui sudah menunggunya di peron. Mereka berjabat tangan dan saling berciuman dengan hangat. Ketika aku melihat sikap tulus dan saling mengasihi di antara mereka, tumbuh dalam hatiku keinginan mendalam untuk mengetahui jalan hidup mereka." "Di sinilah aku seakan menemukan makna hidup sesungguhnya yang segar dan baru. Pandangan hidup ini bebas dari penganiayaan dan siksaan spiritual yang membuat kehidupan Barat menyimpang, rusak berat, brengsek, dan aneh. Pada orang Arab kutemukan apa yang sebenarnya aku cari selama bertahun-tahun dalam kebudayaanku, yaitu ikatan emosional dan persahabatan. Di Arab, di depan rumah pamanku, aku menyaksikan orang-orang melakukan salat lima kali sehari. Yang mengesankan aku adalah disiplin mereka yang luar biasa. Cara mereka beribadah penuh martabat.

Waktu aku berbincang-bincang dengan sang imam (orang yang memimpin salat), pintu Islam mulai terbuka bagiku."

"Pada 1922, Fankfurter--sebuah Koran Jeman--mengangkatku sebagai perwakilan-tamu di Timur Tengah. Jadi, aku mendapat kesempatan mengunjungi negara-negara Arab dari dekat. Sejak itulah aku mulai betul-betul mengenal bahwa negara-negara Eropa menjadikan negara-negara muslim dan penduduknya sebagai sasaran penindasan mereka dan berusaha melumpuhkan dan melemahkan mereka secara religius, cultural, sosial, ekonomi, dan politik dan membuat mereka kehilangan martabat kemanusiaan dan harga dirinya. Ini khususnya terjadi di Palestina. Di sini, mereka mempunyai kebijakan yang sangat tidak manusiawi dan ketidakjujuran intenasional."

Pada 1923 aku tiba di Mesir. Aku mengontrak sebuah umah yang di depannya terdapat musala. Di sini aku melihat seseorang yang memakai kopiah putih di kepalanya mengumandangkan azan untuk mengundang salat setiap kali waktunya datang. Ketika menyerukan 'Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu alla ila ha illallah' dengan lantang, suaranya bergema sehingga udara sekelilingnya terisi dengan kehangatan dan kasih sayang. Suaranya datar saja, tetapi murni dan tulus.

Gairah keimanan dan perasaan khidmat mengisi seruan itu dengan keindahan dan keagungan. Nada dan keselarasan azan yang sama di setiap penjuru dan pelosok dunia, tak pelak lagi, membuktikan kesatuan dan solidaritas muslim seluruh dunia yang bersifat inheren. Tidak ada upaya yang akan sukses merusak apalagi menghancurkannya. Untuk pertama kali dalam kehidupanku, aku tinggal di dalam suatu masyarakat yang kehidupannya didasarkan atas kehangatan cinta dan ketulusan hati bukannya pertimbangan ekonomi, warna kulit, dan ras."

"Pada musim panas 1932, saya kembali ke Baitul Maqdis. Aku berumpa dengan seorang guru yang berasal dari Damaskus. Ia mengundang aku berkunjung ke Damaskus. Di sana kutemukan rahasia kedamaian dan kepuasan dalam kehidupan orang Arab. Hasil dari hubungan sosial dan emosional yang akrablah yang mendasari ketulusan dan persahabatan itu. Aku sangat kagum melihat hubungan timbal balik antara pemilik dan penjaga toko dan peran masing-masing ketika mereka saling berhubungan."

"Pada setiap hari Jumat mereka menjalani kehidupan yang sangat berbeda. Perasaan senang dan khidmat berbaur, harga diri dan rasa kasih mendominasi suasana sekeliling. Pada hari yang penuh kedamaian itu saya terkenang pada setiap hari Minggu di eropa yang terasa demikian suram, hambar, monoton, dan kosong dari semangat dan minat. Suasananya kurang darah. Mereka harus menunggu hari-hari Minggu untuk memenuhi kebutuhan mereka akan kepuasan dan kebahagiaan. Tetapi, mereka menemukan suasana yang hambar, tidak hidup, dan tanpa gairah. Di lain pihak, orang Arab empunyai hari Jumat. Hari itu diisi dengan kebahagiaan hidup yang suci lagi mulia. Mereka membuka toko dan pusat bisnis hanya beberapa jam lalu menutupnya selama salat Jumat.

Setelah usai salat mereka duduk santai di kedai-kedai kopi untuk bersengkerama dan mengobrol dengan sahabatnya. Setelah beberapa waktu mereka kembali terlibat dalam kegiatan bisnis. Di sinilah terletak rahasia kegembiraan sejati kehidupan mereka sehari-hari."

"Pada suatu Jumat, aku berkunjung ke masjid jami Uwwi bersama pemilik rumah. Di sana aku menjumpai para jamaah berdiri, rukuk dan sujud mengikuti imam mereka dengan konsentrasi dan kesadaran mendalam. Dari perbuatan dan sikap mereka, hubungan dekat antara Tuhan (Allah) dan manusia tampak jelas. Salat merupakan bagian dari kehidupan mereka, selalu ingat kepada-Nya dan tidak pernah lupa."

"Sekeluarnya dari masjid aku berkata kepada pemilik rumah yang kuinapi, sejauh mana mereka merasa dekat kapada Allah dan aku berharap Dia pun begitu."

"Mengapa tidak," katanya, lalu menambahkan, "Apa alternatifnya" Allah, Yang Maha Tinggi, bukankah menyatkan (di dalam Alquran), 'Aku lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu'."

"Perasaan dan wawasan baru ini sangat mengesankan dan banyak memberi ilham. Oleh sebab itu, aku mencurahkan tenaga untuk menelusuri literatur Islam dan mendiskusikan dengan kawan-kawan berbagai masalah keislaman."

"Aku sampai pada kesimpulan bahwa dalam Islam kemajuan material diperlukan tetapi bukan untuk summum bonum bagi kehidupan manusia. Tuntunan-tuntunan sensual harus dipenuhi tetapi harus tunduk pada kaidah moral. Selanjutnya, Islam mensyaratkan supaya kaidah moral tidak hanya menyentuh hubungan yang suci dan tulus antara Tuhan dan manusia, tetapi juga meliputi seluruh hubungan manusia. Bukan hanya diarahkan demi tujuan kesempurnaan spiritual manusia, tetapi juga ditujukan untuk pengembangan diri ke arah pertumbuhan dan kemajuan sistem sosial dan masyarakat secara keseluruhan sehingga setiap individu hidup dalam kedamaian dan keadilan."

"Pada musim gugur 1923 aku pulang ke Eropa. Pada waktu itu Eropa dilanda fenomena baru. Orang Eropa, baik laki-laki maupun perempuan tampak sangat menyedihkan, menyebalkan, dan kucal. Tata cara dan adat kebiasaan mereka tampak janggal dan tingkah mereka kelihatan tidak beradab. Meskipun demikian, mereka menyatakan bahwa mereka melakukan itu dengan sadar dan dengan pengertian tentang kebijaksanaan yang sempurna. Namun, pada kenyataannya mereka tidak berprinsip dan tidak mempunyai cita-cita dalam hidup. Mereka sepertinya bergerak masuk ke dalam lorong yang gelap. Untuk pertama kalinya aku membuat studi yang objektif terhadap Kristen. Tetapi mengagetkan, aku menemukan ada kontradiksi besar antara entitas fisik dan entitas spiritual dan kesenjangan lebar antara iman dan amal. Karena itu, aku menyimpulkan tanpa keraguan bahwa kristianitas seperti yang ada sekarang ini mustahil dapat menunjukkan kepada manusia jalan yang benar."

"Selama musim semi 1924 aku kembali ke Mesir. Setelah beberapa hari di sana tibalah bulan Ramadan. Selama sebulan penuh lingkunganku larut ke dalam suasana yang penuh dengan kesalehan, kesucian, kebajikan, dan kedermawaan. Aku mencoba merenungkan hikmah puasa. Semakin dalam aku merenungkan makna puasa, semakin paham aku akan sesucian dan kemuliaan Islam. Dalam suatu rentang yang cukup panjang, aku mendapat kesempatan untuk mendiskusikan ajaran Islam, hikmah yang terdapat dalam setiap butir ajarannya, dengan seorang ulama muda dan terpelajar, Syekh Mustafa al-Maraghi dari Al-Azhar. Diskusi ini membuka mataku akan permata baru dalam pemikiran dan amalan."

"Dari studi Alquran dan diskusi mendalam dengan Syekh Al-Maraghi, aku memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa orang Eropa telah meninggalkan sebongkah batu yang hampir-hampir tidak dapat digeser yang menyelewengkan fakta dan membuat citra Islam menjadi buruk. Mereka menggambarkan Islam sebagai agama orang bar-bar dan liar yang tidak punya kearifan, kesucian, kebijakan, dan kemurahan hati. Kini saya yakin dan percaya bahwa ajaran Islam tanpa cacat dan bebas dari kontradiksi, kepalsuan, kekurangan, dan kelemahan. Kajian, pengamatan, dan diskusiku mengantarkan aku kini mempercayai bahwa Islam terbebas dari setiap kelemahan yang dimiliki oleh agama lain. Cacat dan keemahan yang ada pada kaum muslimin bukanlah cacat dan kelemahan Islam."

"Pada September 1926 aku melakukan sebuah perjalanan dengan kereta api. Aku disertai istri. Sepasang suami istri duduk di hadapan kami.

Dilihat dari pakaian, cincin berlian, dan penampilannya mereka tentu orang berada. Tetapi, kesedihan dan perasaan kosong tergambar nyata pada wajah mereka. Aku menebarkan pandangan ke sekeliling dan menemukan kesedihan terpanjang pada wajah orang-orang kaya lainnya. Tetapi, sayangnya mereka tidak merasa murung dan putus asa."

"Waktu kukemukakan hal ini kepada istri, ia juga setuju. "Seakan-akan mereka tengah menjalani kehidupan di dalam neraka. Saya ragu apakah mereka tahu apa yang terjadi pada diri mereka,' kata istriku dengan nada berat."

"Ketika aku merenungkan keterbelakangan dan kerusakan yang dialami oleh kaum muslimin dewasa ini, aku tiba pada kesimpulan bahwa pengingkaran dan perceraian mereka dari ajaran dan praktik Islam yang murnilah yang menyebabkan mereka terlempar ke dalam keadaan sekarang. Meskipun masyarakat muslim masih ada namun ibarat raga tanpa jiwa. Pada awalnya masyarakat Islam didasarkan pada agama. Dengan terkikisnya dan rusaknya aspek religius, maka aspek kulturalnya pun terkena imbas."

"Waktu kembali ke Eropa pada 1926, aku merasa terdorong untuk segera memeluk Islam karena tidak ada jalan keluar lainnya. itulah kesimpulan logis studi dan diskusi yang kulakukan dengan giat selama ini."

Sumber: Islam the Final Choice, Badar Azimabadi

(Buku Islam the Final Choice telah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Akhirnya Kupilih Jalan Selamat oleh penerbit Marja', Bandung, Telepon/Faksimile (022)7833682, E-Mail ynuansa@telkom.net).