Anda adalah pengunjung yang ke:

Konsultasi Kerja sama antara Pasien-Dokter-Keluarga-Perawat
Form konsultasi
Keluhan
Kritik dan saran

Konsultasi lewat Facebook

Pasien datang ke rumah sakit -- mungkin diantar teman, tetangga, atau keluarga -- dengan berbagai kondisi. Pasien mungkin dalam kondisi sadar, setengah sadar atau tidak sadar.

Pasien yang tidak sadar, jelas sudah tidak dapat dikorek keterangan mengenai keluhannya maupun runtutan keluhan dan kejadian. Sedangkan pasien yang sadar, masih menunjukkan beragam variasi penampilan: ada yang bersemangat untuk berobat sehingga mampu secara lancar menceritakan keluhan dan runtutannya; ada yang bersemangat untuk berobat tetapi karena keterbatasan fisiknya (menahan rasa nyeri atau sesak nafas) sehingga sulit untuk bercerita; ada yang mau berobat tetapi tidak mau bercerita -- menjawab banyak kalimat pertanyaan yang ditujukan padanya dengan sepatah-sepatah kata -- hanya menyerahkan saja apa yang akan diperbuat petugas kesehatan; ada yang cuek saja antah mau diobati entah tidak; ada yang tidak mau berobat tetapi dipaksakan oleh keluarga.

Keluarga yang mengantar pasien juga memiliki beragam penampilan: ada yang penuh perhatian kepada pasien dan dapat menceritakan runtutan keluhan/kejadian; ada yang perhatian kepada pasien tetapi tidak dapat menceritakan atau tidak tahu runtutan keluhan/kejadian; ada yang perhatian kepada pasien dan merasa serba lebih tahu; ada yang tidak tahu-menahu kejadian/keluhan pasien tetapi hanya menginginkan pasien sembuh segera; ada yang cuek saja kepada pasien karena apabila pasien di rumah cukup merepotkan.

Lalu apa yang diharapkan? Semua pasti setuju, kalau harapan pasien dan keluarganya adalah bahwa pasien sesegera mungkin sembuh. Harapan petugas kesehatan bagaimana? Yakni, pasien dan keluarga dapat menceritakan keluhan/kejadian secara runtut, riwayat tindakan/pengobatan yang pernah dilakukan sebelumnya, dan selanjutnya pasien dan keluarganya memahami kondisi pasien dan perkembangannya selama dirawat.

Cerita tentang runtutan keluhan/kejadian dan riwayat penyakit yang serupa sebelumnya dan riwayat pengobatannya, sangat berperan dalam menegakkan diagnosis penyakit. Cerita yang runtut tersebut memiliki peran sebesar 60% dari diagnosis suatu penyakit, sebelum dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang hanya untuk menunjang (mendukung/membuktikan) suatu diagnosis setelah cerita/wawancara dan pemeriksaan fisik. Pasien atau keluarga sering meminta pemeriksaan Rontgen, USG, dsb., yang notabene pemeriksaan tersebut adalah pemeriksaan penunjang.

Di ruang perawatan, sering ditemui perbincangan berikut:

Keluarga pasien: "Hari ini kami akan membawa pasien keluar"
Dokter: "Kenapa?"
Keluarga: "Karena tidak ada kemajuan."

Adakah yang janggal dari perbincangan tersebut? Jelas ada, yaitu: komunikasi antara dokter dan keluarga pasien tidak berjalan. Ya, tentu saja kita harus melihat pula penampilan keluarga pasien seperti tersebut di atas. Lalu bagaimana sebaiknya yang kita lakukan sebagai pasien atau keluarga pasien?

Yang harus dilakukan adalah:
  1. Menceritakan secara rinci runtutan keluhan, penyakit sebelumnya, pengobatan yang sudah dijalankan, diungkapkan pada saat awal masuk rumah sakit. (Karena cerita/wawancara/anamnesis) sudah mendukung 60% penegakan diagnosis.
  2. Meminta waktu dokter untuk berkonsultasi/berdiskusi tentang penyakit pasien, pemeriksaan penunjang/lanjutan, dan perkembangan pasien. Parameter perkembangan pasien dapat dilihat dari klinis fisik pasien atau dari pemeriksaan penunjang (laboratorium, Rontgen, USG, dsb.).
  3. Menerima kondisi pasien dan berkonsultasi ke dokter tentang apa tindakan selanjutnya. Harus timbul persamaan persepsi antara keluarga/pasien dan dokter mengenai penyakit pasien. Tidak semua penyakit dapat disembuhkan sesuai keinginan pasien/keluarga, dan penyakit bersifat individual (orang dengan penyakit yang sama mendapat obat yang persis, tetapi hasilnya dapat berbeda). Ada penyakit yang tidak dapat "disembuhkan" (kembali pulih seperti sedia kala), sehingga harus ada pula persamaan persepsi tentang "sembuh".
  4. Menanyakan perkembangan pemeriksaan (hasil pemeriksaan penunjang).

Untuk kemajuan perawatan pasien memang diperlukan kerja sama yang baik -- dalam tindakan pengobatan, pemeriksaan, pemahaman dan persepsi -- antara pasien, keluarga, perawat dan dokter. Dan yang lebih penting, selalu mengingat bahwa upaya pengobatan di rumah sakit hanyalah sekedar usaha, apakah akan sembuh atau tidak, dan seperti apa kesembuhan yang didapat, yang menentukan hanyalah Allah SWT.

"Wa idza maridtu fahuwa yasyfiin". Dan apabila aku sakit, maka Dia-lah yang menyembuhkanku. (QS. Syu'ura: 20)

Menggantungkan (memasrahkan) kesembuhan kepada dokter dan obat-obatan adalah syirik. Berdoa dan mengharapkan kesembuhan tanpa mendatangi dokter atau minum obat adalah melanggar sunnatullah (hukum alam). Obat-obatan adalah proses (hukum alam) untuk penyembuhan. Ilmu kedokteran dan pengobatan dikembangkan atas hukum alam (sunnatullah) yang tetap kekal sejak terciptanya makhluk sampai kiamat.

    Copyright © 2008 by Suyanto    www.dokteryanto.wordpress.com;         www.konsultasi-internis.blogspot.com